Tampilkan postingan dengan label Tausiyah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tausiyah Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juni 2014

Tausiyah Islam Pernak-Pernik Islam (Edisi 5 Juni 2014)


Sayyid Jamal al-Din al-Afghani (1838-1897) & Kepimpinan Dunia Islam

oleh ABDUL SALAM MUHAMMAD SHUKRI
KELEMAHAN dunia Islam memerlukan kepada kepimpinan yang utuh dan berintegriti tinggi dalam usaha mengubah umat menjadi umat yang kuat, bersatu dan kreatif. Sayyid Jamal al-Din al-Afghani (1838-1897) merupakan pemimpin kepada kebangkitan Islam di zaman moden selepas kejatuhan umat Islam di tangan tentera Mongol dan penjajahan barat. Dunia Islam mengiktiraf sumbangan Jamal al-Din al-Afghani kepada kebangkitan Islam dan umatnya. Beliau merupakan seorang yang berpersonaliti komprehensif, pemikir agung, tokoh mujaddid dan pemimpin politik yang berwibawa (Amin Osman). Penulis barat seperti Nikki R. Keddie (2005) melihat Jamal al-Din al-Afghani sebagai tokoh ideologi yang terkenal dan aktivis politik di abab ke-19 yang masih kuat mempengaruhi dunia Islam. Beliau diterima umum sebagai tokoh Islam yang berjasa besar tanpa dibatasi sempadan negara, mazhab dan fahaman.

Artikel ini berkisar kepada sumbangan Jamal al-Din al-Afghani kepada dunia Islam secara umum dan secara khususnya tumpuan beliau dalam membentuk kepimpinan dunia Islam yang kuat dan mantap. Antara buah pemikirannya yang masih segar ialah perlunya kepada kesatuan umat Islam (al-wahdat al-Islamiyyah atau Pan-Islamisme) dalam menghadapi penjajahan Barat. Pendekatan beliau dalam berpolitik ialah mana-mana pemimpin Islam yang lemah atau bersekongkong dengan penjajah perlu disingkir dan digantikan dengan pemimpin yang kuat, berwibawa dan patriotik. Kesemuanya akan menjadi pengajaran kepada umat dalam menghadapi cabaran semasa.

Latar Belakang Hidup dan Perjuangan Jamal al-Din Al-Afghani
Kehidupan awal Jamal al-Din al-Afghani tidak begitu diketahui secara terperinci dan tepat. Ada yang mengatakan beliau lahir pada tahun 1838 di kampung bernama Asadabad, berdekatan dengan Hamadan, Iran (Keddie). Ada yang berpendapat beliau dilahirkan di As’ad Abad, berdekatan dengan Kabul, Afghanistan pada tahun 1839 (Adams 2010). Ayah beliau ialah Sayyid Safdar atau Saftar, seorang berketurunan sayyid dikatakan sampai kepada keturunan Rasulullah s.a.w melalui cucu baginda, Saidina Hussain bin Ali (626-680).
Menurut sumber Syiah, beliau mendapat pendidikan awal di rumah dan meneruskan pengajian di Qazvin, Tehran, Iran dan di Iraq terutamanya di kota suci Syiah (‘Atabat ‘Aliyat), iaitu Najaf, Karbala, Kazimayn dan Samarra. Di sekitar tahun 1856-57, perselisihan berlaku antara beliau yang masih muda berumur sekitar 18 tahun dengan ulama Syiah sehingga menyebabkan beliau meninggalkan ‘Atabat, meneruskan pengajiannya di India selama setahun lebih dalam ilmu-ilmu barat, metodologi dan bahasa inggeris. Seterusnya kembara ilmu diteruskan ke kota-kota Islam yang lain termasuk Mekah, Baghdad dan Istanbul. Menurut Charles Adams (2010), Jamal al-Din al-Afghani menguasai semua bidang ilmu Islam termasuk nahu Arab, saraf, balaghah, sejarah, teologi, tasawwuf, logik, falsafah, fizik, metafizik, matematik, astronomi, perubatan, anatomi dan sebagainya. Latar belakang pendidikan dan pengalamannya yang ada melayakkannya untuk menyumbang kepada dunia Islam.

Ini jelas apabila hampir sepuluh tahun, iaitu sekitar tahun 1865 beliau muncul di kampung kelahirannya, bertemu keluarga dan sanak saudara sebelum meneruskan perjalanan ke Tehran dan Aghanistan menerusi Khurasan dalam usaha membina kekuatan umat dan dunia Islam.
Beliau melihat kepentingan Afghanistan yang agak terpencil tetapi berpotensi dalam mengerakkan kekuatan dunia Islam. Di Afghanistan, beliau lebih dikenali sebagai Sayyid “Rumi” (Anatolian) atau “Estanboli”, iaitu orang Istanbul atas permintaan sendiri. Sebelum ini beliau sudah mendapat kepercayaan pemerintah (amir) Afghanistan dan pernah berkhidmat di bawah Amir Dost Muhammad Khan (1793-1863). Selepas kematian Dost Muhammad Khan, berlaku krisis politik sesama penggantinya, iaitu antara Sher Ali Khan (1825-1879) dan tiga adik beradiknya. Salah seorang dari mereka, iaitu Muhammad A’zam Khan melantik Jamal al-Din al-Afghani sebagai penasihatnya. Al-Afghani merancang dan menasihati A’zam Khan supaya berbaik-baik dengan Rusia di sebalik pihak Inggeris.

(Sumber : www.dakwah.com)

Tausiyah Islam Kajian Islam (Edisi 5 Juni 2014)


Memperbaharui Komitmen Beragama

Makna Komitmen Beragama
Kata komitmen dalam kamus Besar Bahasa Indonesia adalah perjanjian atau keterikatan untuk melakukan sesuatu. Orang yang komit diartikan sebagai orang yang mewajibkan diri untuk melakukan sesuatu.
 
Sedangkan agama Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw, mengandung tuntunan hubungan manusia dengan Allah Sang Pencipta (Al Khaliq), hubungan manusia dengan dirinya sendiri, maupun hubungan manusia dengan manusia lainnya. Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Al Khaliq tertuang dalam hukum-hukum syariah mengenai aqidah dan ibadah. Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri tertuang dalam hukum-hukum syariah mengenai akhlak, pakaian, makanan, dan minuman.

Aturan Islam yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya tertuang dalam hukum-hukum syariah mengenai perkawinan, pewarisan, jual beli, sewa menyewa, kontrak kerja, dan muamalah lainnya serta berbagai peraturan yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan, pengadilan, dan pelaksanaan sanksi hukum untuk menegakkan aturan Islam itu di masyarakat.
   
Ketika seorang muslim mengucapkan dua kalimat syahadat berarti dia telah mengikat dirinya dengan pandangan hidup Islam, bahwa tiada Dzat yang dia akui sebagai satu-satunya Dzat yang layak disembah kecuali Allah Swt; bahwa tiadalah tugas hidup di dunia ini melainkan beribadah kepada-Nya (QS. Ad Dzariyat 56), baik dalam arti sempit maupun luas; bahwa tiada cara beribadah kepada-Nya yang diterima kecuali yang datang dari Muhammad Rasulullah Saw, bahwa seluruh aktivitas hidupnya harus berjalan sesuai dengan aturan Allah Swt, dan bahwa di akhirat kelak dia akan dimintai pertanggung-jawaban atas kesaksian dan komitmennya itu yang dia wujudkan dalam  keyakinan, perkataan, dan perbuatannya selama hidup.   

Komitmen Beragama Para Sahabat Nabi Saw.
Para sahabat Rasulullah saw. di kota Makkah saat mereka menyatakan penerimaan dan kesaksian mereka kepada Rasulullah saw. yang menawarkan aqidah tauhid dalam suasana dominasi kemusyrikan dan kejahiliyahan, memiliki komitmen untuk hidup baru sesuai dengan pengarahan Allah Yang Esa. Apapun resikonya. 

Ibnu Mas’ud r.a. adalah orang yang pertama kali membacakan Al Quran secara terbuka di tempat berkumpulnya orang Quraisy di dekat Ka’bah. Tentu saja orang-orang Quraisy langsung memukulinya sampai babak belur. Ketika kembali kepada para sahabatnya, dia justru mengatakan: "Mulai sekarang tidak ada lagi yang kutakutkan dari orang Quraisy, berikanlah lagi ayat-ayat Al Quran, pasti akan kubacakan di hadapan mereka."

Setelah Islam kuat secara politik maupun militer di Madinah, kaum muslim semakin komit dengan ajaran Islam, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berjamaah (bermasyarakat dan bernegara). Orang-orang Anshar yang pada saat Baiat Aqabah ke-II menyatakan komitmen mereka (dalam bentuk baiat) kepada Rasulullah Saw, untuk melindungi beliau Saw. sebagaimana mereka melindungi keluarga mereka, benar-benar memenuhi komitmen mereka. Mereka selalu berjuang dan berjihad bersama Rasulullah Saw, tanpa pamrih.
 
Dengan komitmen para sahabat kepada perjuangan Islam, Allah SWT menolong Rasulullah Saw, dan kaum muslimin dalam memenangkan berbagai peperangan melawan kaum Quraisy, kaum Yahudi, dan musuh-musuh lainnya.  Sehingga Allah SWT mengokohkan wilayah kekuasaan negara Islam itu dari negera kota Madinah pada tahun pertama hingga meluas ke seluruh wilayah jazirah Arab pada tahun ke-10, tahun wafatnya Rasulullah saw.

Memperbaharui Komitmen Beragama?

Kita semua bisa merasakan, tatkala Ramadhan begitu getol kita beribadah. Begitu semangat kita ingin menjadi muslim yang diridloi Allah.  Begitu rajin kita mempersiapkan makan sahur, melaksanakan shalat tarawih dan membaca Al Quran. Tapi seketika lebaran, segala aktivitas mulia di atas pupus sudah. Disinilah perlunya memperbaharui komitmen beragama Islam kita dengan cara sebagai berikut.

Pertama, kita bersihkan dan murnikan kembali kebenaran keimanan kita kepada Islam. Di malam hari kita bermunajat kepada Allah, kita renungkan kembali pernyataan kita:

“Ya Allah, Engkau Maha Benar, janji-Mu benar, bertemu dengan-Mu benar, firman-Mu benar, surga itu benar, neraka itu benar, para nabi benar, dan Nabi Muhammad saw. adalah benar, serta kiamat itu benar. Ya Allah, hanya kepada Engkaulah aku berserah diri, hanya kepada Engkaulah aku beriman,hanya kepada Engkaulah aku bertawakkal, hanya kepada Engkaulah aku kembali, hanya karena Engkaulah aku berdebat, dan hanya kepada Engkaulah aku meminta keputusan hukum,…”.

Benarkah yang kita nyatakan di atas? Apa kenyataan dari pernyataan kita di atas? 

Kedua, kita perlu meneladani komitmen beragama para sahabat yang merupakan contoh generasi yang memiliki komitmen Islam yang sangat tinggi.  Mereka adalah orang-orang yang hidup dengan metode kehidupan Islam yang suci. Mereka membangun peradaban mereka dengan asas aqidah Islamiyah, aqidah Lailahaillallah Muhammadurrasulullah. Mereka menjadikan tolok ukur aktivitas kehidupan mereka adalah halal haram. Mereka adalah orang-orang yang menjadikan ridlo Allah sebagai tujuan hidup dan makna kebahagian bagi mereka adalah melakukan amal yang mengantarkan pada mendapatkan ridlo-Nya itu (lihat QS. At Taubah 100).

Ketiga
, selanjutnya marilah kita mulai mewujudkan langkah menumbuhkan komitmen itu satu persatu dalam diri kita dengan melaksanakan, mencatat, dan mengontrol komitmen kita itu satu-persatu dalam perkara-perkara yang bisa kita lakukan terlebih dulu sesuai dengan kemampuan kita. Misalnya, kita mulai dengan mendisiplinkan sholat berjamaah, merutinkan sholat tahajjud, merutinkan shaum Senin Kamis dan sunnah lainnya, dan merutinkan membaca Al Quran setiap habis sholat Subuh dan habis sholat Maghrib. Setelah itu insyaallah perkara-perkara lain bisa kita lakukan dengan lebih mudah.
 
Khatimah
Akhirnya marilah kita perbaharui komitmen beragama Islam kita dengan merenungkan kata-kata bijak:


Bukanlah berlebaran itu bagi orang yang bajunya baru, tapi berlebaran itu bagi orang yang ketaatannya bertambah”.  Semoga kita termasuk di dalamnya. Allahumma Amin!



Tausiyah Islam Bicara Syariah Pintar Karya Dr Irfan Syauqi Beik (Edisi 5 Juni 2014)


 
Memperkuat Perdagangan Indonesia ke Negara OKI

Indonesia perlu mengoptimalkan semua potensi yang ada untuk mengembangkan perdagangan, termasuk potensi ekspor barang dan jasa ke luar negeri. Selama ini, orientasi perdagangan Indonesia lebih banyak ke negara-negara barat, sementara ke negara-negara Islam khususnya anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) masih kurang. Padahal potensi ekspor ke negara-negara tersebut sangat besar.

Dari data yang ada, ekspor Indonesia ke negara anggota OKI baru sebesar 12%. Dari 12% itu 91% diantaranya adalah ekspor  ke 17 negara, sementara anggota OKU ada 57 negara., yang kebanyakan adalah negara kaya, pendapatannya sangat tinggi, dan merupakan pasar ekspor yang potensial. Ini seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor.

Sudah saatnya Indonesia mengalihkan pasar ekspornya, dengan menggarap secara serius pasar ke negara-negara OKI, termasuk Timur Tengah. Apalagi Amerika Serikat dan Uni Eropa belum sepenuhnya pulih dari krisis ekonomi.  Oleh karena itu peluang tersebut harus dimanfaatkan, dengan  harapan akan mendorong perekonomian nasional.

Salah satu penyebab rendahnya ekspor Indonesia ke negara-negara OKI, salah satunya disebabkan belum adanya FTA antara Indonesia dengan mereka, kecuali dengan Malaysia. Sayangnya,  ternyata impor Indonesia dari negara-negara Islam lebih besar, terutama migas. Hal ini mengakibatkan terjadinya trade balance yang negatif. Padahal dengan pendapat dari migas yang sangat tinggi, negara tersebut juga bisa dimanfaatkan dalam hal foreign direct investmen.   

Dalam pembukaan pasar ekspor ke negara anggota OKI, bukan hanya perlu peran pemerintah, tapi juga pengusaha dalam hal kesiapan. Pemerintah harus lebih optimal dalam menjalin hubungan kerjasama perdagangan. Hal itu diyakini tidak sulit, karena negara-negara OKI relatif  tidak terlalu cerewet dalam hal persyaratan  barang ekspor, kecuali dalam soal kehalalan pada produk makanan.

Dalam pembukaan pasar ekspor ke negara anggota OKI, bukan hanya perlu peran pemerintah, tapi juga pengusaha dalam hal kesiapan. Pemerintah harus lebih optimal dalam menjalin hubungan kerjasama perdagangan. Hal itu diyakini tidak sulit, karena negara-negara OKI relatif  tidak terlalu cerewet dalam hal persyaratan  barang ekspor, kecuali dalam soal kehalalan pada produk makanan.

Pemerintah harus lebih  jeli lagi dalam melihat peluang ini, tidak terpaku pada pasar ekspor tradisional. Berpikirnya adalah sebagai kesempatan ekonomi untuk kepentingan bangsa dan rakyat.



Rabu, 04 Juni 2014

Tausiyah Islam Remaja (Edisi 4 Juni 2014)


Virus Galau, Kudu Dihalau!

Seorang facebooker ngasih status ‘:(’ di wall-nya. Tak lama, facebooker lain langsung kasih comment, ‘lagi galau yaa…!’. Sementara di belahan dunia maya lain, salah satu tweeps mendadak nge-tweet puisi yang mendayu-dayu di statusnya. Tak lama, berondongan respon masuk yang mempertanyakan kegalauannya.

Hare gene, penghuni dunia maya lagi keranjingan virus galau. Lagi sedih diputusin pacar, dibilang galau. Lagi marah ngeliat pacar selingkuh dua lingkuh, dibilang galau. Lagi gak dapet perhatian dari pujaan hati, diledekin galau. Apalagi social media udah jadi corong ekspresi kawula muda. Walhasil, curcol alias curhat colongan yang memenuhi dinding facebook atau memadati kicauan tweeter tak bisa dibendung. Status galau pun merajalela.
Nggak tahu deh pastinya sejak kapan kosakata ‘galau’ marak di dunia maya. Tapi yang jelas, ‘Galau’ sepertinya sudah menjadi keluhan wajib facebookers dan tweeple. Dan mungkin karena terlampau seringnya, akhirnya jadi trend. Padahal sebenarnya pengertian kata ‘Galau’ itu mengarah ke sikap negatif. Sayangnya, ketika menjadi semacam trend, banyak remaja yang merasa bangga melabeli dirinya generasi ‘Galau’ tanpa cari tahu artinya. Persis, sebelumnya ketika ada istilah ‘Alay’, ‘Lebay’, ‘Funky’, maka istilah yang berkonotasi negatif itu, malah jadi sebuah kebanggaan. Hemm…bener juga kale ya, kata para dalang itu kalo bumi ini sudah gonjang-ganjing alias kebolak-balik.

Driser, istilah galau menurut beberapa referensi yang ada, menunjukkan ke persepsi negatif. Coba perhatikan definisi galau menurut KBBI, yaitu di halaman 407 Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV (2008), “galau” berarti kacau (tentang pikiran); “bergalau” berarti (salah satu artinya) kacau tidak karuan (pikiran); dan “kegalauan” berarti sifat (keadaan hal) galau. Di dalam Google Translate dan buku Kamus Indonesia-Inggris John M. Echols dan Hasan Shadily, bahasa Inggris galau adalah hubbub dan confusion. Artinya, galau lebih dekat dengan suasana pikiran yang tengah bingung. Menurut situs arti-kata.com, ber·ga·lau adalah sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran).

Nah, apapun arti atau definisi galau, yang pasti kita dengan mudah mendeteksi kehadiran para galauers di dunia maya. Ciri-cirinya adalah self sentris alias doyan mengeluh atau ngomongin dirinya sendiri atau getol mengumbar masalah pribadinya ke publik atau rajin update banyak status dalam waktu singkat atau aktif curcol di waktu-waktu Indonesia bagian galau yang katanya sekitar jam 22 malem sampe jam 04 pagi. Apakah driser termasuk salah satunya? Hayooo ngaku aja!!

Galau Adalah Produk Sekularisme
Orang merasa bingung (confuse) adalah sebuah kewajaran, suatu hal yang manusiawi. Sama seperti rasa takut-berani, bahagia-sedih, dll. Akan tetapi menjadi tidak manusiawi, ketika kebingungan itu menjadi wabah penyakit epidemi, bahkan jadi semacam karakter yang melekat pada seseorang. Apalagi ketika menghadapi suatu masalah, dia selalu dilema atau bingung. Itu menunjukkan bahwa memang orang yang bingung tersebut tidak punya prinsip hidup yang jelas dalam menghadapi persoalan.

Klop, seperti yang dialami kebanyakan remaja saat ini. Coba liat, saat ngadepin ujian sekolah, daripada pusing, banyak pelajar yang ambil jalan pintas. Mereka memilih untuk bikin contekan, kerjasama saat ujian, atau cari bocoran soal. Dalam menapaki karir atau pekerjaan, maunya yang cepat dan banyak menghasilkan uang. Pilhannya jatuh ke dunia selebriti dengan terlebih dahulu ikut audisi. Kalo lagi ngumpul bareng sohib, nggak mau ketinggalan tren. Kalo temannya aktivis pacaran, tanpa pikir panjang langsung cari gebetan. Kebayang dong kalo orang gak punya prinsip hidup yang jelas, apa aja dijabanin ngikutin hawa nafsunya. Pertimbangan moral atau akhlak udah gak mempan. Bahkan aturan Islam pun dilabrak. Jadi gelap mata bin lupa daratan. Ini menunjukkan bahwa remaja kita adalah generasi galauers.

Ironisnya, virus galau juga menular ke orang dewasa. Bahkan menjadi penyakit galau massal menjangkiti masyarakat kita. Kebingungan masyarakat dalam memberi standar salah-benar atau baik-buruk dalam mensikapi kondisi lingkungan menunjukkan dengan pasti kalo masyarakat sedang galau. Sehingga ketika media memberitakan tentang terorisme yang dikaitkan dengan aktivis gerakan Islam, maka dengan mudahnya masyarakat melakukan generalisasi. Setiap yang berjenggot, celana cingkrang, pakai jubah, atau bercadar dianggap teroris. Ngasal deh!

Kegalauan pribadi maupun masyarakat nggak akan mewabah kalo lingkungan sekitar kita pake aturan hidup Islam sebagai prinsip hidup dalam menilai baik-buruk dan salah benarnya perbuatan. Yang ada sekarang justru lingkungan disterilkan dari aturan hidup Islam. Dengan kata lain, memisahkan pembahasan problem kehidupan dengan Islam, alias sekularisme. Islam hanya dibatasi di pojok-pojok mushola, itupun diambil yang ada kaitannya dengan ibadah ritual saja atau dalam urusan nikah, talak, cerai, rujuk, waris. Diambil yang kira-kira menyenangkan, dipakai ketika sedang suntuk dan diamalkan kalo bisa menenangkan hati.
Padahal Islam itu sejatinya adalah way of life (jalan hidup). Islam adalah dien yang mengatur segala urusan, mulai dari bangun tidur sampai urusan mendengkur, mulai dari urusan sepele sampai yang bertele-tele, mulai dari urusan bangun rumah sampai bangun negara. Semuanya diatur dalam Islam. Komplit..plit..plit!

Jangan Ada Galau Diantara Kita
Driser, rasa galau itu ngetemnya dalam hati dan pikiran, tentu saja kalau disepelekan akan berakibat buruk. Akibat lanjutan bagi orang yang sedang galau (bingung, confuse) adalah futur (down), lupa diri, lupa daratan, sampe lupa makan yang selanjutnya bisa bikin pengidapnya kehilangan arah dan tujuan hidup. Kaya orang linglung gitu.
Ketika seseorang bingung cari jalan keluar dari masalah yang tengah dihadapi, itu tandanya doi belum punya prinsip (idealisme) hidup yang yahud. Padahal idealisme hidup yang lahir dari cara pandang (mindset) dia terhadap kehidupan itu penting banget buat panduan menyelesaikan setiap masalahnya. Seorang remaja yang punya prinsip hidup dagadu: muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga, bisa jadi masa mudanya banyak dipake untuk mengejar kesenangan dunia yang tak ada habisnya.

Idealisme itu ibarat darah yang senantiasa mengalir dalam tubuh kita. Bicara idealisme, adalah bicara tentang hidup dan mati, tentang harga diri, tentang sikap, dan tentang tujuan dan target kita dalam hidup ini. Bayangin aja, kalo orang sama sekali nggak punya idealisme, hidupnya bakal penuh kegalauan. Ibarat orang bepergian tapi nggak tahu tujuannya harus pergi ke mana. Dijamin bekal, waktu, tenaga, dan pikirannya bakal habis gak karuan. Idealisme itu ibarat “nyawa” dalam kehidupan kita. Bisa kita bayangkan sendiri, bahwa ketika kita nggak punya tujuan yang hendak dicapai, rasanya garing banget hidup ini.
Dengan memiliki idealisme, tujuan hidup kita jadi terarah, memiliki target yang jelas, dan pasti punya dorongan kuat dalam mewujudkan segala  impian mulia yang jadi tujuan hidupnya. Dan itu berarti menuntut sebuah perjuangan dan pengorbanan. Rintangan seberat apapun akan dianggap sebagai sebuah tantangan yang kudu ditaklukkan. Maju terus pantang kabooor!

Cegah Galau Dengan Dakwah
Nggak bisa dipungkiri kalo masyarakat kita tengah terjangkit virus galau. Cengkeraman aturan kapitalis sekuler yang dipake negara makin menjauhkan masyarakat dari ajaran Islam. Masyarakat digiring untuk menjadikan untung –rugi dari sisi materi sebagai tolok ukur dalam menilai perbuatan. Standar halal dan haram dianggap udah kadaluarsa. Ujung-ujungnya, masyarakat makin galau kalo udah disodorin aturan Islam untuk ngatur hidupnya  biar sejahtera. Masihkah kita cuekin kondisi ini?
Ooooh….tentu tidaaak! Sebagai muslim, udah seharusnya kita peduli dengan urusan kaum Muslimin. Kalo kita santai-santai aja alias cuek bebek terhadap kondisi di atas, maka patut dipertanyakan keislaman kita. Rasul ngingetin kita dalam sabdanya: “Barang siapa yang bangun pagi hari, ia hanya memperhatikan masalah dunianya, maka orang tersebut tidak berguna apa-apa di sisi Allah; dan barang siapa yang  tidak pernah memperhatikan  urusan kaum muslimin yang lain,  maka mereka  tidak termasuk golonganku” (HR Thabrani dari
Abu Dzar Al Ghifari).

So,  setelah kita care, peduli akan nasib kaum muslimin, yang kita lakukan berikutnya adalah memberikan edukasi (pembinaan) ke masyarakat termasuk individunya. Pembinaan pribadi seperti Rasulullah Saw membina para sahabat-sahabatnya di Darul Arqam. Sedangkan pembinaan masyarakat dengan menyebarkan opini, baik lisan maupun tulisan, baik dalam jumlah banyak atau sedikit. Opini yang mengupas tuntas tentang Islam sebagai jalan hidup, Islam sebagai problem solving, Islam sebagai idealisme hidup, serta menghancurkan segala opini yang bertentangan dengan Islam. Ayuk kita gabung dengan barisan para pengemban dakwah biar virus galau segera kita halau. Wataw![LBR]

BOX
Tips Anti Galau
Kata orang bijak “Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobati”, ya memang idealnya begitu. Berikut tips praktis kalau si galau sudah menyerang kita:
·         Sadarkan diri bahwa kita ini akan diuji oleh Allah dengan masalah yang datang kepada kita, sebagai ujian ‘cinta’ alias keimanan kita kepada Allah. So, stay cool, calm, and confident!
·         Sertakan sikap sabar dan syukur, ketika masalah itu datang, karena masalah itu akan mendewasakan kita. Nikmatin aja sambil cari solusinya.
·         Kalo merasa memang harus curhat, carilah tempat curhat yang tepat, jangan membiasakan diri curcol di arena publik macam facebook atau twitter. Cobalah cari teman, atau datangi tempat yang bisa ‘menasehati’ kita, karena temannya orang yang sedang galau adalah kesendiriannya, dia merasa sendiri dalam menghadapi hidup.
·         Selalu tanamkan positif thinking. Pertama, positif thinking pada Allah SWT, karena Allah sesuai dengan persangkaan/mindset hambanya. Kedua, positif thinking pada diri sendiri,  karena seorang muslim yang baik adalah yang “bermanfaat” bagi orang di sekitarnya.
·         Segera cari sarana atau wahana yang bisa membuat kita memiliki idealisme Islam, yakni tempat-tempat kajian Islam, setelah itu istiqomahlah di dalamnya
So, bakarlah semangatmu untuk belajar sekarang juga, jangan ditunda! (LBR)